Banyak Bergerak Saat Tidur? Waspadai Gejala Parkinson

Review terbaru menunjukkan bahwa menendang, meninju dan bergerak tak karuan saat tidur mungkin merupakan gejala awal penyakit Parkinson.Bergerak saat tidur, dan sepertinya ‘bertindak’ seperti di dalam mimpi merupakan karakteristik dari suatu kondisi yang disebut rapid eye movement sleep behaviour disorder (RBD). Para peneliti telah menemukan sekitar setengah dari orang dengan RBD akan mengalami penyakit Parkinson atau gangguan neurologis lain  yang sedang didiagnosa dalam satu dekade.
Mereka menemukan pada akhirnya, 81-90 persen pasien dengan RBD dengan mengembangkan gangguan neurodegenerative.
“Jika Anda mendapatkan kelainan ini dan berumur panjang, Anda akan hampir pasti menderita penyakit Parkinson atau kondisi yang mirip dengan itu, hal tersebut adalah tanda peringatan dini,” kata Profesor Michael Howell, dari University of Minnesota, dan co-author dari penelitian tsb .
Orang dengan RBD dijelaskan memiliki mimpi buruk, dan mereka bertindak dramatis saat tidur. Orang dengan RBD bisa bergerak saat tidur seperti benar-benar melawan musuh, melarikan diri dari bahaya dan tindakan lain persis seperti mimpinya di tempat tidur mereka. Gerakan meninju, atau tangan yang menggelepar, bahkan melompat dari tempat tidur bisa saja terjadi.
Kadang-kadang, orang dengan kondisi ini dapat melukai diri sendiri atau siapa saja yang berbagi tempat tidur dengan mereka.
“Sangatlah penting untuk membuat lingkungan kamar tidur seaman mungkin ‘dengan meniadakan benda yang dapat diambil atau digunakan sebagai senjata, misalnya pistol, kata Profesor Howell. Orang dengan RBD bergerak selama periode rapid eye movement, ketika sebagian besar mimpi terjadi tapi otot tubuh biasanya dilumpuhkan oleh sistem batang otak.
Mereka dengan kondisi seperti ini diyakini memiliki kerusakan pada batang otak mereka, yang memungkinkan mereka untuk bergerak selama tidur REM.
Ini adalah kondisi yang berbeda dari sleepwalking, Profesor Howell menjelaskan, karena berjalan dalam tidur mengalami kebingungan ketika mereka bangun. Biasanya mudah untuk membangkitkan seseorang dengan RBD, dan mereka akan mengingat rincian yang jelas dari mimpi buruk mereka.
RBD mempengaruhi 0,5 persen dari populasi atau 35 juta orang di seluruh dunia. Meskipun tidak dapat disembuhkan, dapat dikendalikan dengan hormon melatonin dosis tinggi atau dosis rendah obat clonazepam anti-kecemasan.
Sebagai bagian dari studi ini, Profesor Howell dan rekan-rekannya telah me-review  500 penelitian di yang dipublikasikan antara tahun 1986 dan 2014 yang mengeksplorasi hubungan antara RBD dan Parkinson.
Mereka menemukan antara 81 dan 91 persen pasien dengan RBD mengembangkan gangguan otak degeneratif selama hidup mereka. Penyakit Parkinson, kondisi di mana bagian dari otak menjadi rusak secara progresif, ditandai dengan tremor, gerakan lambat dan otot kaku dan tidak fleksibel. Hal ini disebabkan oleh kerusakan protein tertentu dalam sel-sel otak yang memproduksi dopamine, zat kimia yang menghasilkan perasaan menyenangkan dalam menanggapi kegiatan bermanfaat.
Bisa jadi hasil RBD dari tahap awal pemecahan protein dalam sel-sel otak, yang berarti itu bisa menjadi tanda peringatan yang berguna pada penyakit Parkinson, kata Profesor Howell.
Namun, tidak semua orang yang mengembangkan Parkinson akan memiliki RBD lebih dulu. Namun demikian, temuan ini dapat membantu dokter menemukan cara untuk mendiagnosa Parkinson lebih awal dan mengobati penyakit Parkinson ketika sedang dalam tahap awal, Profesor Howell menambahkan. Kondisi ini tidak dapat disembuhkan, tetapi dapat dikendalikan dengan obat-obatan.
Terapi eksperimental yang disebut simulasi otak bagian dalam telah menjanjikan pada beberapa pasien.