Apakah Harus Menikah Lagi Setelah Suami Pertama Wafat?

Menerima lamaran yang kedua bagi seorang wanita yang telah menjadi janda bukanlah perkara mudah. Ada begitu banyak persoalan yang harus dipertimbangkan, baik dari dalam diri, anak-anak, keluarga besar, bahkan masyarakat sekitar. Termasuk di dalamnya tuduhan sebagai ‘penggila ranjang’ atau mata duitan jika laki-laki yang datang melamar merupakan orang kaya.
Di titik ini, apakah yang sebaiknya dilakukan oleh seorang janda? Belum lagi bayang-bayang terkait kebaikan atau keburukan mantan suaminya?
Suami dari muslimah surgawi ini baru saja menjumpai syahid lantaran luka yang diderita dalam rangakain jihad memperjuangkan agama Allah Ta’ala. Lama menderita sakit di bagian pahanya lantaran sabetan pedang beracun, sang suami pun melepas nafas terakhir dengan aroma yang mewangi, melintasi zamannya hingga akhir dunia kelak.
Saat suaminya wafat, sang istri benar-benar terpukul. Bahkan, saat ada orang shalih menyampaikan nasihat agar dia memohon kepada Allah Ta’ala supaya diberi ganti yang lebih baik, sang janda penuh pesona ini menjawab syahdu, “Adakah yang lebih baik dari suamiku?”
Waktu berjalan, sosok shalih yang keringatnya wangi ini, akhirnya mengirim utusan untuk melamar janda shalihah yang kini menjadi orang tua tunggal bagi empat anak peninggalan suami pertamanya. Meski keshalihan laki-laki ini tak diragukan, sang janda menangguhkan. Ia melakukan istikharah. Luar biasa, ini tidak akan pernah terulang dalam sejarah; seorang janda shalihah berani menangguhkan lamaran laki-laki shalih yang kebaikannya diakui oleh Allah Ta’ala.
Alasan sang janda jelas, ia masih dibayangi kebaikan mantan suami, dan sukar melepaskan semua kenangan manis di medan jihad dan dakwah bersama suaminya itu. Akan tetapi, haruskah perasaan membuatnya terhalang dari melakukan kebaikan yang direkomendasikan oleh syariat Islam?
Akhirnya, sang janda menyampaikan tiga hal kepada sosok shalih yang melamarnya. Ialah soal anak-anaknya yang masih kecil, perasaannya yang amat mudah dibakar api cemburu, dan usia senjanya hingga sukar melahirkan anak lagi.
Lepas menyampaikan tiga hal itu, sang utusan kembali kepada orang shalih yang melamar. Atas tiga hal yang disampaikan oleh sang janda surgawi itu, sang shalih menyampaikan tiga hal pula sebagai jawaban.
Soal anak-anak yang masih kecil, hendaknya diserahkan urusannya kepada Allah Ta’ala. Terkait usia yang tak muda lagi, sang shalih menyebutkan bahwa usianya lebih tua dari janda yang dipinangnya. Sedangkan masalah cemburu berlebih, sang shalih akan mendoakan agar Allah Ta’ala mengurangi kecemburuannya hingga tak merusak hubungan.
Akhirnya, sang janda pun menikah lagi, untuk kedua kalinya, dengan laki-laki yang jauh lebih baik dari suami pertamanya. Sang shalih, tak lain adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Dalam kisah agung ini, hendaknya para janda memperhatikan dengan cermat. Jangan asal menolak lamaran, apalagi segera menerimanya tanpa alasan yang jelas dan pertimbangan yang matang. Sebab asal menerima lamaran bisa berujung pada kesukaran hidup, kelak di kemudian hari.
Pertimbangkan soal usia, anak-anak, dan sifat-sifat yang engkau miliki, serta hal lainnya, termasuk respons keluarga besar. Yang terpenting, jangan sampai pertimbangan-pertimbangan itu membuatmu melanggar syariat atau justru urung melakukan kebaikan yang dibolehkan Allah Ta’ala.
Semoga Allah Ta’ala meridhai Ummul Mukminin Ummu Salamah yang telah menjadi pelaku agung dalam sejarah amat mulia ini. Wallahu a’lam.